Nuurun, sapaan akrab perempuan bernama asli Nuurun Nahdiyyah Karunia Yuliastin, adalah kelahiran asli Ponorogo, tepatnya di ujung kulon dimana Peradaban Ponorogo bagian Barat dimulai, dikenal dengan situs Bantarangin. Dibesarkan dari keluarga sederhana yang dikelilingi oleh keluarga yang menjadikan pendidikan sebagai ruang dakwah terbaiknya. Di mulai dari eyangnya yang kalau dirunut akan sampai pada silsilah Tegalsari, dimana menjadi Pusat Peradaban Muslim tua di Nusantara. Profesi utama Nurun Nahdiyah adalah seorang pendidik dan Pengabdi Masyarakat yang berkonsentrasi pada masalah – masalah perempuan dan anak, dan beliaulah Nahkoda tertinggi Organisasi perempuan Besar di Ponorogo yang memiliki ribuan Basis.

Ibu Nuurun Kecil

Seperti kebanyakan anak pada umumnya, ibu Nuurun kecil adalah  anak yang gemar bermain dan memiliki banyak teman di lingkungannya. Namun, ada yang berbeda dengan sosoknya, adalah jiwa kepemimpinannya  yang muncul sejak kecil. Masjid terdekat sebagai pusaran ruang interaksinya di waktu kecil adalah awal Nurun Mengenal pentingnya membangun interaksi sosial. “Tiap kali saya bermain dengan teman-teman sebaya, saya sering mengambil peran sebagai guru tanpa ada yang merintah dan mengkondisikan, saya memang sangat mengidolakan  eyang putri saya yang dulu punya santri sepuh – sepuh yang belajar pada eyang bagaimana ngaji yang benar dan shalat yang benar, dan kesulitan yang luar biasa karena belajarnya sudah sepuh. Berawal dari itu saya tergerak, teman – teman berarti harus dari kecil mau belajar agar tidak terlambat seperti ketika saya tahu santri eyang yang begitu rekoso belajar. Biasanya nih, saya yang suka mengajak mereka ayo to belajar, ayo ke masjid dan entah mengapa mereka atas izin Allah mau tergerak dan mengikuti ajakan saya. Alhamdulillah sekali” Tutur Nurun dalam sebuah wawancara khusus.

Belajar dan Berorganisasi

IAIN Tulungagung merupakan perguruan tinggi keagamaan islam negeri yang memantabkan komitmen Nurun sebagai akademisi, aktivis pendidikan dan perempuan serta memilih jalan intelektual organik sebagai pilihannya. Saat masih berstatus sebagai seorang mahasiswa, beliau aktif dalam berbagai organisasi intra maupun ekstra kampus. Baginya, kuliah bukan hanya belajar dikelas lalu pulang kemudian mendapatkan IPK cumlaude. “Meskipun aktif berorganisasi, Alhamdulillah saya pun bisa mengikuti pembelajaran kuliah dengan baik sehingga lulus dengan predikat yang memuaskan.” Tuturnya. Disinilah sebenarnya keyakinan bahwa  “agent of change” itu harus dimulai sejak, belum menjadi apa – apa hanya mahasiswa sederhana yang harus mengikuti pilihan orang tua setelah keinginan hatinya harus tertunda untuk bisa kuliah di kota lain. Lingkungan, Sahabat dan dosen – dosen yang visioner telah memantabkan hatinya untuk meyakini bahwa perubahan adalah yang paling kekal, untuk itu kita harus mau ikut berputar pada poros perubahan tersebut, atau kita akan tergilas.  beliau mendirikan sebuah komunitas belajar bagi anak-anak marginal, yang tidak mampu secara ekonomi bahkan terpinggir secara status sosial, untuk tetap bisa mendapatkan keilmuan terutama agama secara baik diluar jam sekolah. Selain itu, beliau juga aktif sebagai pendamping komunitas bagi perempuan dan anak korban KDRT. “Saya masih ingat sekali, dalam komunitas ini kami mendampingi perempuan yang diceraikan oleh suaminya dan tidak dinafkahi, anak-anak yang putus sekolah kemudian dipekerjakan dan tidak diberikan hak untuk mengenyam bangku sekolah. Kami mencoba mendmpingi bersama senior – senior, karena dalam kondisi apapun mereka berhak mendapatkan haknya.” Ungkap Nurun.

Tentang Agen Perubahan

Apa makna perubahan?

Berangkat dari motto hidupnya khairunnaas anfa’uhum linnaas (sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain), prinsip itulah yang membuatnya berfikir bagaimana beliau mampu memberikan manfaat bagi lingkungan di sekitarnya. “Kalau dalam dunia pendidikan, saya akan mengajak seluruh komponen dalam keluarga besar saya untuk melakukan transformasi karena pada dasarnya kita semua adalah agent of change, kita adalah transformer yang mampu mewarnai perubahan itu sendiri.” Selain itu, baginya bergerak cepat menawarkan “problem solving” dalam setiap masalah apapun yang dihadapi merupakan makna dari perubahan. Perubahan hanya bisa dilakukan oleh orang yang memiliki ketajaman nurani dan kepekaan hati terhadap situasi apapun yang muncul di sekitarnya, terutama hal – hal yang menyangkut ketidkadilan, kemanusiaan dan marginalisasi dan saat seperti inilah kesadaran tertinggi telah dicapai.

Bagaimana proses perubahan itu?

Perempuan yang mengidolakan  Siti Khadijah RA, Siti Aisyah RA, dan pahlawan – pahlawan perempuan seperti Dewi Sartika, RA Kartini, Cut Nyak Dien ini pernah mendapatkan penghargaan sebagai Pengelola Madrasah Inspiratif melalui karya researchnya mengenai pendekatan manajemen dengan Strategi “zero deffect tingkat Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Timur pada tahun 2019. Selain prestasi tersebut, tentu saja banyak sekali torehan-torehan prestasi gemilang yang dicapai beliau selama menjadi kepala madrasah antara “the best Five” kepala Madrasah berprestasi Jawa Timur tahun 2016, ditetapkan sebagai agen perubahan dan Pegawai Teladan kategori Pejabat Kemanag Ponorogo tahun 2020, dan yang tidak kalah penting adalah kemampuan membangun budaya kompetitif dan prestasi di Madrasah dimana menjadi tempat pengabdiannya, termasuk MTsN 1 Ponorogo ini banyak Guru dan Siswa berprestasi juga karena magnet beliau dan dorongan tanpa lelah yang selalu ditunjukkan dari keteladanannya secara langsung. “Saya tidak pernah mengharuskan atau memaksa orang melihat atau menilai apakah itu sebuah perubahan atau bukan, Karena setiap orang bebas memberikan tafsirannya yang terpenting adalah kita selalu berbuat dengan hati, dari hati dan untuk hati secara konsisten, karena sesungguhnya konsistensilah penghargaan tertinggi.

Sebagai seorang ketua organisasi perempuan, bagaimana mengambil peran?

Perempuan merupakan bagian penting dari sebuah Negara, karena madrasah pertama anak – anak adalah ibu, dan berawal dari itulah peradaban suatu Bangsa dimulai. Perempuan memiliki hak-hak yang perlu diperjuangkan. Hal inilah yang membuat beliau berusaha membagi peran dan memperjuangkan kepentingan perempuan. Beliau mengungkapkan bahwa agen perubahan itu dimanapun, sebagai guru TPQ boleh, sebagai Pendidik juga sangat mungkin atau peran – peran sosial lainnya, sehingga konsisten memaknai hidup adalah untuk menebar manfaat.

Apa makna anugerah ini?

Bersamaan dengan kegiatan Rapat Kerja seluruh pejabat, Kementerian Agama Kabupaten Ponorogo mempunyai sebuah inovasi baru dalam mengapresiasi kinerja pegawainya dengan memberikan penghargaan dalam ajang pemilihan agent of change (agen perubahan) dan pejabat teladan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ponorogo Tahun 2020. Kegiatan tersebut digelar pada tanggal 15-16 Juli 2020 di hotel aston madiun yang dihadiri oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Timur,yang diwakili oleh Bapak Kabagset Kanwil. Proses pemilihan agen perubahan dimulai dari seleksi di lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Ponorogo dan kemudian dilakukan vote oleh seluruh ASN Kementerian Agama Kabupaten Ponorogo. Dalam acara itulah, Ibu Nuurun mendapatkan penghargaan sebagai agent of change (agen perubahan ) zona integritas Kementerian Agama Kabupaten Ponorogo. “Saya tidak pernah menyangka akan mendapatkan penghargaan ini, karena memnag merasa tidak pantas saja”, tukasnya. Saya mengucapkan terimakasih kepada Kementerian Agama, kepada Bapak Syaikhul Hadi, S.Ag. M.Fil yang sudah mengapresiasi atas apapun yang dilakukan orang lain. Semoga ini menjadi motivasi bagi diri saya sendiri dan keluarga besar kami di MTsN 1 Ponorogo untuk terus melakukan dinamisasi, mengawal perubahan sebagai apapun, dimanapun dan kapanpun”, karena yang paling kekal dalam hidup ini adalah perubahan itu sendiri.

Bagaimana menghadapi orang-orang yang kurang berkenan dengan Capaian – capaian selama ini?

Dalam roda kehidupan yang berjalan, akan selalu ada orang yang suka maupun tidak suka dengan apa yang kita capai, begitu pula saat saya menerima penghargaan ini atau bahkan pada saat saya mencapai posisi tertentu. “Ya kita hadapi dengan senyuman, justru saya ingin mengajak mari kita berlomba-lomba dalam kebaikan “ Fastabikhul khoirot”. Bagi saya, prestasi hanyalah bonus karena yang paling utama adalah proses itu sendiri, dan saya meyakini konsistensilah pengahragaan tertinggi.” Tutur ibu dua anak tersebut.

Harapan bagi perubahan dunia pendidikan

Pendidikan merupakan ruang tertinggi dalam membangun peradaban. Banyak nilai yang harus kita perjuangkan dalam dunia pendidikan. Dimana pendidikan bukan saja transfer of knowledge namun juga transfer of value. Harapan besar beliau, siapapun yang terlibat dalam dunia pendidikan untuk terus meng-upgrade niat, kemudian mendorong untuk aktif bergerak memberikan transformasi dalam ruang pendidikan.

Pesan

“Kehidupan telah mengajari kita banyak hal. Ada yang baik  dan kurang baik. Salah satu indikasi hal yang baik adalah terus berfikir bagaimana kita bisa memberi manfaat untuk orang lain. Apabila itu merusak atau membawa mafsadat, maka tinggalkan. Anak-anakku yang saat ini tengah berjuang jihad fisabilillah ( menuntut ilmu ), ingatlah bahwa orangtua kalian selalu menunggu hasil pencapaian kalian. Bawa dan tebarkan manfaat untuk Agama, Bangsa dan kehidupan sosial kalian dengan cara yang baik.” Untuk siswa-siswi MTsN 1 Ponorogo agar terus membangun motivasi diri  menjadi generasi penerus yang didambakan dan siap menjadi bagian dari perubahan.

 

Ulfa Khoirothun Nisa’ (Red.)

Sabtu, 05 September 2020