(Memaknai Kembali Peran Pemuda dalam kompleksitas Persoalan)

Oleh : Nuurun Nahdiyyah KY, M.Pd.I

            Tanggal 28 Oktober adalah sebuah momentum sakral dimana pemuda Indonesia telah menunjukkan kekuatannya untuk mempersatukan Negeri tercinta. Berangkat dari sebuah history dimana Indonesia adalah Bangsa yang besar yang hampir lebih dari tiga setengah abad, dalam kooptasi feodal. Tentu perjuangan panjang, dengan segala dinamika dan kompleksitas persoalan menjadi tantangan besar pemuda Indonesia saat itu, dimana musuh nyata adalah memanggul senjata, dan Indonesia hanya memiliki bambu runcing yang terbukti karena kekuatan soliditas mampu menjadi benteng terkuat dan senjata paling ampuh dalam melawan penjajah.

Tujuh puluh lima tahun sudah Indonesia merdeka. Bukan berarti Indonesia selesai dengan segala persoalannya, musuh nyata hari ini aadalah kebodohan, kapitalisme, hedonisme dan segala bentuk budaya modernisme benar – benar menjadi musuh yang nyata dan mampu melumpuhkan energi positif yang menjadi kekuatan untuk mengahadapinya.

Pemuda yang memiliki wawasan global dan kecerdasan secara  intelektual maupun spiritual secara berimbang hari ini benar – benar menjadi idaman Negeri ini. Setelah banyak tontonan menjemukan sudah tak lagi pantas  menjadi tuntunan. Anak – anakku sengaja kutulis pesan ini untuk kalian, karena Negeri ini sedang merindukan pemuda pemudi yang memiliki idealisme tinggi menakhlukkan segala bentuk penjajahan hari ini. Memang yang baik tidak selamanya memiliki banyak teman, tapi ingatlah bahwa kehadiranmu di muk bumi ini sebagai khalifatullah fil arld sedang mengusung tugas mulia salah satunya adalah menjadikan kebenaran sebagai tujuan tertinggi, keadilan adalah misi utama atas setiap proses yang kita jalankan.

Melihat pemaknaan di atas Pemuda memiliki peran yang sangat crusial sebagai agen of changepada masa – masa yang akan datang. Sebagaimana Hadits Rasulullah yang artinya :

“Aku wasiatkan kepadamu para pemuda dengan baik, sebab mereka berhati halus.Ketika Allah mengutusku menyamaikan agama yang bijaksana ini, maka kaum mudalah yang pertama – tama menyambut saya, sedangkan kaum tua menentangnya”. ( AL Banna, 92:61).  Dari hal ini sejarah mencatat pada saat dakwah Rasulullah pertama kali di terima oleh kaum muda dari keluarga terhormat kemudian diikuti oleh pemuda – pemuda dari kabilah – kabilah. Dalam menjalankan misi suci ini Nabi Muhammad menyampaikan bahwa peradaban Islam saat itu adalah gerakan kaum muda.

Tepat tanggal dua puluh delapan oktober ini, marilah melakukan muhasabah, sebagai pemuda sudahkah kita mengikuti yang Rasulullah ajarkan, sebagai suri tauladan terbaik sepanjang zaman? Sudahkah potret beliau sebagai uswatun hasanah tertinggi benar – benar kita ilhami dalam kehidupan kita sesungguhya..?Benarkah Hubbul wathan iman telah menjadi satu bagian keimanan kita yang akan kita imani dengan bukti kita menjadi muhsin dan muhlish dalam peran mejadi khalifatullah fil arld?

Musuh nyata kita hari ini adalah kebodohan, mari kita lawan. Musuh nyata kita hari ini adalah hedonisme mari berkomitmen menjadikan kesedrhanaan sebagai kita. Modernitas tak terhindarkan lagi, mari menemukan jati diri dengan baik, dengan terus mengingat bahwa kita memiliki teladan terbaik senjang zaman yang tak tergantikan oleh siapapun, yaitu Rasulullah Muhammad SAW.

Selamat Hari Sumpah Pemuda, Syubbanul Yaum, Rijalu Ghoddan pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan. Siapkan dirimu sebaik – baiknya agar cita – cita mulia menjadi pemimpin Bangsa ini tidak sekedar impian tapi layak engkau sandang.

Kami putra dan putri Indonesia bertumpah darah satu air satu tanah air Indonesia

            Kami Putra Putri Indonesia Berbangsa satu Bangsa Indonesia

            Kami Putra putri Indonesia menjunjung Bahasa Persatuan Bahasa Indonesia