
Workshop Peningkatan Kompetensi Guru Mata Pelajaran dalam Implementasi KBC Madrasah Piloting pada MTsN 1 Ponorogo dan MTsN 3 Ponorogo
Dalam rangka meningkatkan kompetensi guru serta memperkuat implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) di madrasah, MTsN 1 Ponorogo dan MTsN 3 Ponorogo menyelenggarakan Workshop Peningkatan Kompetensi Guru Mata Pelajaran dalam Implementasi KBC Madrasah Piloting. Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu, 8 Januari 2025 bertempat di NBC Ngabar. Workshop ini menjadi bagian dari upaya strategis madrasah dalam memberikan bimbingan teknis (bimtek) guna mendukung percepatan dan akselerasi penerapan KBC di satuan pendidikan, meskipun pada praktiknya nilai-nilai KBC telah mulai diterapkan sebelumnya.
Workshop diawali dengan pembacaan doa dan ayat suci Al-Qur’an sebagai penguatan spiritual, yang dikorelasikan dengan peningkatan kompetensi guru serta penguatan hubungan dengan Allah SWT sebagai fondasi utama Kurikulum Berbasis Cinta. Kegiatan ini menegaskan bahwa implementasi KBC harus tercermin dalam sikap, cara bekerja, dan proses mengajar guru di madrasah masing-masing.
Dalam sambutannya, Bapak Nyamiran, S.Pd, M.Pd.I menyampaikan pesan inspiratif kepada para peserta. Beliau menekankan bahwa seorang guru hendaknya tidak hanya berkeinginan melihat muridnya pintar secara akademik, namun lebih utama adalah mendoakan murid-muridnya agar menjadi pribadi yang baik dan berkarakter. Beliau juga menyampaikan bahwa rekreasi yang paling indah adalah mengajar, karena mengajar merupakan ladang pengabdian dan kebahagiaan. Bahkan beliau menegaskan, “Andaikan muridku hanya satu, maka aku akan tetap mengajar dengan sepenuh hati.”
Sambutan sekaligus arahan disampaikan oleh Plt Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ponorogo, Bapak H. Moh. Thohari, S.Ag, M.H. Beliau menegaskan bahwa segala sesuatu di dunia dapat menjadi sebab laknat Allah SWT apabila tidak dilandasi keimanan dan cinta. Guru dituntut menjadi pribadi muta’alliman, yaitu orang berilmu yang mampu menjadikan ilmunya sebagai sarana membentuk keimanan. Selain itu, guru juga harus bersikap mutalafan linnasi, yakni lemah lembut terhadap sesama manusia dengan dasar cinta.
Beliau menekankan bahwa keislaman seseorang tidak cukup hanya dengan membaca syahadat, namun harus tercermin dalam akhlak, terutama dalam memperlakukan peserta didik. Guru yang masih melakukan kekerasan kepada muridnya, menurut beliau, belum mencerminkan nilai keislaman yang sejati. Hal ini sejalan dengan panduan implementasi kurikulum di madrasah, bahwa orang yang benar-benar alim dan berilmu adalah mereka yang mampu mengimplementasikan ilmunya dalam kehidupan nyata.
Lebih lanjut disampaikan bahwa penerapan KBC perlu dilakukan melalui berbagai pendekatan, termasuk kokurikuler, agar nilai-nilai KBC benar-benar hidup dalam keseharian peserta didik. Sikap lemah lembut antar sesama manusia, bahkan dalam konteks hubungan antarnegara di tengah dinamika global, diyakini mampu melahirkan kedamaian abadi di muka bumi. Konsep ekoteologi juga ditekankan, yaitu keterkaitan nilai keagamaan dengan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian integral dari Kurikulum Berbasis Cinta.
Workshop Madrasah Piloting KBC kemudian secara resmi dibuka dan dilanjutkan dengan penyampaian materi kebijakan Kementerian Agama tentang Kurikulum Berbasis Cinta pada madrasah. Materi berikutnya disampaikan oleh Bapak Dr. Nasta’in, M.Pd.I, yang membahas implementasi KBC dalam kegiatan intrakurikuler. Selanjutnya, Bapak Ruslan Tohirin, S.Ag., M.Si menyampaikan materi mengenai implementasi KBC dalam Panca Cinta.
Di sela-sela kegiatan, suasana workshop semakin hangat dan penuh kebersamaan ketika para peserta diminta membentuk lingkaran untuk menukar kado yang telah disiapkan, sebagai simbol cinta, kepedulian, dan kebersamaan yang menjadi ruh Kurikulum Berbasis Cinta. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan materi dari Bapak Masykuroji, S.Ag., M.Pd.I terkait implementasi KBC pada kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler.
Sebagai penutup rangkaian materi, Kepala MTsN 1 Ponorogo, Bapak Taufik Effendi, S.Ag., M.Pd.I, menyampaikan Rencana Tindak Lanjut (RTL). Dalam paparannya beliau menyampaikan,
“Madrasah akan membentuk Tim KBC tingkat madrasah, melakukan identifikasi dan menyusun program Madrasah Piloting KBC, menentukan modeling KBC dalam satuan pendidikan berbasis kelas, serta melaksanakan evaluasi dan perbaikan secara terus-menerus dan berkelanjutan sebagai bagian dari implementasi Kurikulum Berbasis Cinta secara bertahap.”
Melalui Workshop Peningkatan Kompetensi Guru Mata Pelajaran dalam Implementasi KBC Madrasah Piloting ini, diharapkan seluruh guru MTsN 1 dan MTsN 3 Ponorogo semakin memiliki pemahaman yang komprehensif, sikap yang humanis, serta komitmen kuat dalam menerapkan Kurikulum Berbasis Cinta. Dengan sinergi antara kebijakan, praktik pembelajaran, dan keteladanan guru, madrasah diharapkan mampu melahirkan generasi yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, serta membawa kedamaian bagi lingkungan dan masyarakat luas.



